Peraturan Menteri Pendidikan Nasional
nomor 2 tahun 2010 tentang Rencana Strategis Kementerian Pendidikan Nasional
2010-2014 bahwa kebutuhan akan penguasaan dan penerapan IPTEK (Ilmu Pengetahuan
dan Teknologi) dalam rangka menghadapi tuntutan global berdampak pada semakin
meningkatnya peranan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) dalam berbagai
aspek kehidupan termasuk dibidang pendidikan, meningkatnya kebutuhan untuk
berbagai informasi dan pengetahuan dengan memanfaatkan TIK, serta perkembangan
internet yang memudahkan melakukan komunikasi dan akses terhadap informasi.
Kondisi di atas menuntut diberlakukannya kebijakan TIK di bidang pendidikan,
terutama dalam proses pembelajaran.
Pembelajaran berbasis TIK diharapkan
mampu membantu siswa memahami materi dengan cara yang sederhana, sesuai dengan
tingkat berfikir siswa sehingga secara langsung ataupun tidak langsung dapat meningkatkan
mutu pendidikan di Indonesia. Mutu
pendidikan Indonesia dibandingkan negara-negara OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) masih
tergolong rendah. Hal ini dibuktikan melalui hasil TIMSS (Trends in International Mathematics and Science Study) dan PISA (Programme for International Student
Assesment).
TIMSS adalah studi internasional tentang prestasi matematika dan sains (IPA) siswa lanjutan tingkat pertama sedangkan PISA adalah studi internasional tentang prestasi literasi membaca, matematika dan IPA siswa berusia 15 tahun (Balitbang, 2013). Perolehan hasil studi TIMSS dan PISA aspek Literasi IPA dapat dilihat pada Tabel 1 dan 2 di bawah ini.
Tabel 1. Posisi Indonesia Dibandingkan Negara Lain Berdasarkan Studi TIMSS
|
Tahun studi |
Skor Internasional |
Skor Indonesia |
Jumlah peserta |
Peringkat Indonesia |
|
1999 |
488 |
435 |
38 |
32 |
|
2003 |
474 |
420 |
46 |
37 |
|
2007 |
500 |
427 |
49 |
35 |
Sumber: Balitbang, 2013
Tabel 2. Posisi Indonesia Dibandingkan Negara Lain Berdasarkan Studi PISA
|
Tahun studi |
Skor Internasional |
Skor Indonesia |
Jumlah peserta |
Peringkat Indonesia |
|
2000 |
500 |
393 |
41 |
38 |
|
2003 |
500 |
395 |
40 |
38 |
|
2006 |
500 |
393 |
57 |
50 |
|
2009 |
500 |
385 |
65 |
60 |
|
2012 |
500 |
382 |
65 |
64 |
Sumber: Balitbang, 2013
Siswa dengan skor kurang dari 400 hanya mampu mengingat
konsep IPA berdasarkan fakta sederhana, kemampuan ini dalam taksonomi Bloom
berada pada ranah kognitif level C1. Skor ini
menunjukkan bahwa kemampuan IPA rata rata siswa Indonesia berada pada kategori Low International Bencmark.
Siswa
yang berada pada kategori ini hanya mampu mengenali sejumlah fakta dasar tetapi
belum mampu mengkomunikasikan dan mengaitkan berbagai topik sains; belum mampu
menerapkan konsep-konsep
yang kompleks dan abstrak; belum mampu mengkombinasikan informasi untuk menarik
kesimpulan, menafsirkan informasi dalam diagram, grafik dan bagan untuk
memecahkan masalah; belum mampu memberikan penjelasan singkat yang berisi
pengetahuan ilmiah serta hubungan sebab dan akibat; serta belum mampu
memahami dasar dasar penyelidikan ilmiah; belum dapat memberikan penjelasan
tertulis untuk menyampaikan pengetahuan ilmiah (Tim TIMSS Indonesia, TIMSS
2011).
Rendahnya
literasi IPA
siswa Indonesia menunjukkan rendahnya kemampuan problem solving. PISA 2006 mengidentifikasi empat dimensi besar
literasi IPA yakni proses IPA, konten IPA, konteks IPA, dan sikap IPA. Pada
literasi IPA,
khususnya pada proses IPA
terdapat lima komponen penilaian yang menunjukkan kemampuan problem solving siswa, yaitu: (1) mengenal
pertanyaan ilmiah yaitu pertanyaan yang dapat diselidiki secara ilmiah, seperti mengidentifikasi
pertanyaan yang dapat di
jawab oleh IPA; (2) mengidentifikasi
bukti yang diperlukan dalam penyelidikan ilmiah; (3) menarik dan mengevaluasi
kesimpulan; (4) mengkomunikasikan
kesimpulan yang valid yakni mengungkapkan secara tepat kesimpulan yang dapat
ditarik dari bukti yang tersedia;
(5) mendemonstrasikan pemahaman terhadap konsep-konsep IPA
yakni kemampuan menggunakan konsep konsep dalam situasi yang berbeda dari yang
telah dipelajari (Hayat dan Suhendra, 2011: 51-52).
Berdasarkan observasi yang dilakukan di sekolah dapat
diketahui bahwa proses IPA belum berjalan optimal, hal ini disebabkan IPA yang
ada di sekolah baru dikembangkan berdasarkan konten dan konteks yang terkait
dengan pengetahuan. Rendahnya kemampuan pemecahan masalah
disebabkan
oleh minimnya pengetahuan dasar yang seharusnya dimiliki anak untuk
menyelesaikan masalah
(Minarni, 2012). Rendahnya literasi IPA siswa Indonesia tidak terlepas dari peran guru
sebagai pendidik.
Guru merupakan faktor sentral
dalam peningkatan mutu pendidikan. Menurut Sanjaya (2012: 13) komponen yang sangat mempengaruhi pendidikan
adalah guru. Guru juga merupakan ujung tombak yang berhubungan langsung dengan
siswa sebagai subjek dan objek belajar. Simon dan Alexander (1980) dalam
Mulyasa (2011: 13) menyatakan bahwa kemampuan guru sangat berpengaruh terhadap
kemampuan siswa.
Kualitas guru mencerminkan kualitas siswanya. “Guru
sebagai tenaga pendidik mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagai tenaga profesional”
(Suhartini, 2011: 2). Salah satu kewajiban guru adalah mengembangkan rencana
pelaksanaan pembelajaran (RPP), salah satu komponen yang penting adalah media
pembelajaran. Dengan demikian, guru diharapkan mengembangkan media pembelajaran
sebagai salah satu sumber belajar. Terutama media pembelajaran berbasis TIK. Siswa
telah memanfaatkan TIK dalam setiap kegiatan mereka sehari-hari namun, hal ini
tidak mereka dapatkan di sekolah karena belum banyak guru yang memanfaatkan
media pembelajaran berbasis TIK.
Berdasarkan
hasil analisis angket yang diberikan kepada 19 orang guru IPA dari 11 SMP yang
tersebar di kota Padang, pada kegiatan peer-teaching
pelatihan implementasi kurikulum 2013 pada tanggal 26 Juni 2014 di SMP N 11 Padang,
didapatkan respon sebagai berikut: (1) 53 % menyatakan media pembelajaran IPA yang dapat dijadikan pedoman masih
kurang tersedia; (2) 68 % guru mengalami kesulitan dalam merancang, membuat,
dan menggunakan media pembelajaran IPA berbasis TIK; (3) 95 % berharap media
pembelajaran IPA disediakan, terutama media yang berbasis TIK dan dilengkapi
dengan petunjuk penggunaan; (4) 53 % media yang digunakan guru masih belum
bervariasi, media belum bervariasi disebabkan jam mengajar yang padat dan adanya
tugas tambahan guru, akibatnya guru
kekurangan waktu untuk merancang dan membuat media yang sesuai dengan
topik pembelajaran dan tuntutan KD pada setiap pertemuan.
Berbagai jenis media dapat digunakan oleh guru
dalam pembelajaran, salah satunya adalah multimedia. Multimedia dapat
mengaktifkan beberapa indera
siswa secara bersamaan, yaitu indera
penglihatan, pendengaran, dan sentuhan. Belajar dengan menggunakan indera ganda akan memberikan keuntungan
bagi siswa. Siswa akan belajar lebih banyak dibandingkan dengan penyampaian
materi hanya secara visual atau audio. Multimedia menurut
Arsyad (2010: 170) adalah kombinasi dari berbagai media yang di dalamnya
terdapat teks, grafik dan audio yang dijadikan satu sehingga menjadi lebih
menarik dan membantu tercapainya tujuan yang diinginkan. Multimedia yang
memiliki interaktivitas atau pengontrol yang dapat dioperasikan oleh pengguna
disebut sebagai Multimedia Interaktif (MI).
Pengembangan media pembelajaran harus memperhatikan
tuntutan kurikulum. Pembelajaran
dalam Kurikulum 2013 berorientasikan pada pendekatan saintifik. Menurut
Nasution (2013: 3) pendekatan saintifik merupakan pendekatan pembelajaran yang
berorientasi pada siswa (student centered),
dimana siswa membangun sendiri konsep pengetahuan bagi dirinya. Permendikbud
No. 81A Tahun 2013 menjelaskan bahwa proses pembelajaran menggunakan pendekatan
saintifik terdiri atas lima tahapan yaitu: 1) mengamati (observing), 2) menanya (questioning),
3) mengumpulkan informasi (exploring),
4) mengasosiasi (associating), dan 5)
mengomunikasikan (presenting).
Pada Kurikulum 2013, kelima tahap tersebut harus ada dalam kegiatan pembelajaran namun, kegiatan menanya (questioning) yang diharapkan muncul dari siswa sulit untuk terlaksana. Hal ini diperkuat dengan hasil observasi peneliti selama kegiatan peer-teaching pelatihan implementasi kurikulum 2013 pada tanggal 26 Juni 2014 di SMP N 11 Padang dan pelatihan lapangan kependidikan di SMP N 34 Padang, serta wawancara terhadap guru dan rekan yang sedang pelatihan lapangan kependidikan di SMP N 8 Padang. Salah satu penyebabnya karena media yang digunakan guru dalam menyampaikan pembelajaran kurang sesuai dan tidak menarik. Sehingga, kegiatan menanya tidak dimunculkan siswa dan hanya disimpan dipikiran mereka. Oleh karena itu, guru harus mampu memancing dan memberi kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan pertanyaannya.
Salah satu cara agar siswa dapat memunculkan pertanyaannya adalah dengan pembelajaran berbasis masalah atau dikenal juga dengan problem solving. Pembelajaran dengan problem solving dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa, karena problem solving menuntut siswa untuk dapat memecahkan masalah-masalah yang mereka hadapi.
Pembelajaran berbasis problem solving memiliki tahapan penyelesaian masalah yang harus dilalui siswa. Tahapan problem solving menurut (Carin, 1997) terdiri dari: planning, obtaining data, organizing data, analizing data, generalizing data. Proses pada tahap planning adalah mengidentifikasi masalah, merumuskan masalah, serta merumuskan hipotesis. Tahap planning sama dengan tahap menanya pada pendekatan saintifik. Pada tahapan ini, siswa diminta untuk mengidentifikasi masalah yang ada dengan cara merumuskannya dalam bentuk pertanyaan.
Agar
pembelajaran lebih menarik, dan siswa dapat lebih terpancing untuk
mengemukakan pertanyaan, maka digunakanlah multimedia interaktif berbasis problem solving sebagai alat bantu guru
untuk memudahkan siswa dalam memahami materi pelajaran, terutama materi yang
sulit dan membutuhkan pemahaman serta analisis mendalam.
Salah satu materi pokok IPA di kelas VII adalah sistem organisasi kehidupan. Materi ini mengantarkan siswa untuk memahami hakikat sistem. Sistem sebagai suatu kumpulan komponen yang saling terkait dan memiliki ketergantungan. Topik ini juga mengenalkan bahwa tubuh seseorang merupakan contoh dari suatu sistem. Pengenalan konsep sistem mengacu pada hakikat hirarki biologi mulai dari komponen unit fungsional terkecil (sel) sampai yang terbesar adalah biosfer.
Sistem organisasi kehidupan merupakan salah satu topik yang mendapatkan alokasi jam pelajaran yang cukup besar di sekolah yaitu 17 jam pelajaran. Hal ini disebabkan topik ini mencakup banyak subtopik dan membutuhkan pemahaman yang mendalam. Berdasarkan hasil analisis masing-masing bab pada ulangan akhir semester 1 di SMPN 8 Padang didapatkan hasil seperti pada Tabel 3.
Tabel 3. Data Hasil Ulangan Akhir Semester 1 di Kelas VII
B, VII C, dan VII D SMPN 8 Padang Tahun Pelajaran 2014/2015
|
No |
Kelas |
Jumlah
Siswa |
Rata-rata
nilai/bab dari 5 bab (%) |
||||
|
Bab 1 |
Bab 2 |
Bab 3 |
Bab 4 |
Bab 5 |
|||
|
1 |
VII B |
27 orang |
30 |
31 |
28 |
18 |
27 |
|
2 |
VII C |
27 orang |
33 |
30 |
27 |
16,5 |
27,5 |
|
3 |
VII D |
30 orang |
30 |
36 |
27 |
20 |
28 |
Sumber: Guru IPA SMPN 8 Padang
Data pada Tabel 3 menunjukkan bahwa rata-rata nilai terendah ada pada Bab 4. Hal ini menunjukkan bahwa perlu perhatian khusus untuk pembelajaran pada materi Bab 4, yaitu Sistem Organisasi Kehidupan. Oleh karena itu, untuk menjawab permasalahan tersebut bapak ibu guru hebat dapat memberikan solusi permasalahan disesuaikan dengan daerah Bapak Ibu guru masing-masing. Untuk permasalahan ini saya telah mengembangkan Multimedia Interaktif Berbasis Problem Solving pada Materi Pokok Sistem Organisasi Kehidupan untuk SMP Kelas VII dengan hasil Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dihasilkan produk berupa multimedia interaktif berbasis problem solving. Produk penelitian dikategorikan valid dari aspek substansi materi, tampilan komunikasi visual, desain pembelajaran, dan pemanfaatan software dengan nilai rata-rata 89,19%. Produk penelitian juga dikategorikan praktis oleh guru dengan nilai rata-rata 87,5% dan siswa dengan nilai rata-rata 87,9% dari aspek kemudahan penggunaan, efisiensi waktu, dan manfaat.
.png)
0 Comments