Aku terlahir di ranah minang dengan adat yang kental dan akan terus terpatri dalam hati. Seorang pemuda minang jika telah memasuki usia remaja menuju dewasa akan pergi merantau. Begitulah adat orang minang selama ini yang dikenal dengan istilah merantau. Aku merantau untuk mengabdikan diri pada anak bangsa yang ada di ujung negeri ini. Berbekal ilmu dari salah satu kampus pendidikan ternama di Kota Padang, aku memberanikan diri untuk melangkahkan kaki ke ujung negeri ini. Mencoba menebar ilmu diantara mutiara hitam di tanah papua.
Budaya minang di tanah papua apa jadinya ya? Gumamku memandang kosong keluar jendela pesawat. Sudah 7 jam kami berada di atas awan, entah berapa lama lagi aku akan sampai ke negeri yang belum pernah aku menempuhnya. Sekelebat pikiran dan bayangan menakutkan membuat terkadang merinding ditambah dinginnya AC pesawat ini membuat suasana semakin dingin dan tidak menentu.
Beberapa menit kemudian, pesawat yang kami tumpangi sudah mendarat di bandara MOPAH, Kab. Merauke, Papua. Ya inilah negeri yang akan menjadi tempat tujuan kami mengabdi untuk menjadi seorang pendidik. Berat sungguh menjadi seorang pendidik, namun aku yakin aku akan bisa bertahan ditanah rantau ini. Aku yakin “dimano bumi dipijak disinan langik dijunjuang”. Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk beradaptasi dengan budaya yang aku sering dengar sangat keras dan bahkan menumpahkan darah.
Oh ranah minang, aku sangat merindukanmu. Pepohonan nan hijau, pegunungan yang indah menghiasi rancaknya ranah bundo, ranah minang. Berbeda jauh dengan ranah rantau yang kini aku berada. Sepanjang mata memandang hanya keringnya rerumputan dan pepohonan yang mengering seakan menjerit memberitahukan kepadaku betapa panasnya bumi merauke ini.
Hei mas! Kok melamun ? suara mbak Citra membuyarkan lamunan ku. Enggak mbak, ini aku sedang nunggu air penuh ni mbak, mau mandi. Mbak Citra membuatku iri, dia saja seorang perempuan tanah jawa saja berani untuk megabdikan diri di tanah timur ini. Kenapa saya tidak ya?
Iya mas, sabar ya mas. Saat musim kemarau saat ini memang air disini susah. Harus menunggu tetesan air untuk memenuhi satu ember kecil, terkadang dua hari lamanya kami tidak mandi. Semoga saja musim kemarau panjang ini segera berlalu ya mas. Ujar mbak Citra berusaha menghiburku. Kulihat mbak Citra tersenyum, sampai saat ini hanya senyum mbak Citra yang selalu berhasil memberikanku semangat dan menguatkanku. Maklum jiwa jomblo ku seakan rapuh dihadapan wanita lembut sepertinya. Oh ya mbak, kapan kita mulai ke tempat tugas ni? Mbak dimana dapat tugasnya? Ujarku penasaran. Berharap mbak Citra dapat satu penempatan dengan ku.
Saya di Distrik Sota Mas, ujarnya lirih. Sota? Kaget jawaban mbak Citra tidak sesuai dengan keinginanku. Kupendam rasa kecewaku untuk tidak melihat mbak Citra dalam waktu setahun ditanah merauke ini. Mas di Distrik Tubang ya? Berusaha menyakinkan pertanyaannya kepadaku. Iya mbak. Sayang ya mbak kita gak sepenempatan. Besok kita udah berpisah ni mbak, semoga saja kita masih bisa komunikasi ya mbak.
Mbak Citra gadis jawa yang lembut dan membuat aku merasa nyaman jika didekatnya. Kami mulai sering chating saat tahu sama mengabdi di tanah merauke selama satu tahun ini. Namun, aku takut jika perasaan kagum ku padanya berubah menjadi cinta. Karena orang tua ku sangat menentang menikah beda etnis. Apalagi orang jawa, hmm, sudah pasti orang tuaku akan mencoret aku dari KK ni.
*****
Saat yang aku takutkan datang juga, dimana kami harus berpisah dan menuju distrik masing-masing. Aku melanjutkan perjalanan dari pusat kabupaten menuju distrik ditengah hutan yang dengan jarak tempuh hampir + 12 jam menyusuri jalanan berdebu dan rusak. Setelah perjalanan jalur darat yang panjang penuh debu dan melelahkan kemudian aku menyusuri pantai yang masih basah dengan air laut, karena air baru surut. Sehingga perjalanan yang aku lalui semakin ekstrim dan menakutkan ditambah lagi sang mentari sudah berada di peraduaannya.
Tiada kata lagi …………..ditengah malam…..
Tut…tut….sret……
Ah……motor yang kutumpangi mogok dan mati ditengah jalan. Mana perjalanan ini masih panjang gumamku…….
Dengan sisa tenaga yang ku punya akhirnya aku bantu Bapak tukang ojek untuk memperbaiki motornya dan membantu mendorong motornya…..
Naas benar nasib ku ini…………
Hmmmm……..
Lelah aku diperjalanan ini………..
Begitulah perjalanan menuju tempat tugas, tempat dimana pengabdianku ini bermula. Tempat yang akan mewarnai hidupku selama setahun penuh pengabdian tiada kenal batas.
*****
Anakku malang anakku sayang, sedih rasanya melihat kondisi sekolah di pedalaman pulau besar seperti Papua di tanah Merauke. Kondisi sekolah yang kurang layak untuk disebut sekolah. Anak Papua memang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata, mereka layaknya anak yang kurang mendapatkan perhatian. Mereka lebih nyaman untuk bekerja dengan fisik dibanding menggunakan otak mereka. Aku bagaikan pahlawan kesiangan yang datang untuk merobah pola pikir mereka.
Ya………aku benar-benar merasa sendirian untuk menghadapi mereka.Menjadi tugas beratku untuk menuntaskan CALISTUNG (membaca, menulis dan berhitung) siswa-siswa ku. Aku harapkan dukungan dari guru-guru lain, namun yang aku dapatkan hanya kata-kata yang membuat pupus harapanku untuk mencerdaskan bangsa ini. “Anak-anak ini tidak bisa di arahkan, mereka harus dipalu dulu baru jalan!”, tutur salah seorang guru tempatku mengabdi. Bersyukur aku mendapatkan sesosok kepala sekolah yang seperti malaikat yang terus mendukung terobosan-terobosan yang aku lakukan.
Setiap pagi puluhan pasang kaki yang tidak beralas selalu melangkah ke sekolah dengan meloncat kegirangan, bahkan sesekali berlarian kecil menuju gerbang sekolah tempat mereka menimba ilmu. Sangat disayangkan, keinginan mereka sekolah sepertinya hanya takut karena paksaan dari ketua adat yang ada di kampung mereka. Mereka sekolah hanya sekedarnya, tidak ada yang dapat dibanggakan selain sepasang baju putih biru lusuh yang mereka gunakan. Dengan pakaian itu mereka telah berganti status, dari anak hutan menjadi anak sekolah tingkat pertama (SMP).
“Selamat pagi Bapak guru!”, ujar mereka mengagetkanku. Siswa-siswa di pedalaman Papua ini sangat menghormati guru mereka dan santun. Disaat Indonesia dihebohkan oleh kasus siswa yang menindas gurunya, siswa yang dengan tega melaporkan gurunya kepada polisi, dan bahkan memenjarakan gurunya. Namun disini, di pedalaman Papua aku merasakan hubungan harmonis antara guru dan siswa.
Di lingkungan sekolah tercipta hubungan antara guru dan siswa, jika telah berada di luar lingkungan sekolah terciptalah hubungan persahabatan yang erat antara guru dan siswa. Siswa sering bermain bersama dengan guru, bermain sepak bola, berenang, memancing, bahkan siswa tidak jarang membawakan hasil buruan mereka untuk guru mereka.
Orang tua siswa juga memperlakukan guru dengan baik dan hormat. Seorang guru menjadi tokoh yang dipanuti dan dihargai keberadaannya. Jika terjadi permusuhan antar kampung, mereka tidak akan pernah mengusik ketentraman seorang guru. Karena mereka memiliki rasa hormat yang tinggi khususnya kepada guru dan umumnya kepada pendatang. So, jangan pernah merasa takut untuk datang ke Papua ya……
Bahkan pernah suatu waktu seorang anak sakit, dan ada beberapa orang meninggal dunia. Sehingga siswa sekolahan libur selama satu minggu dengan alasan adanya gangguan dari suanggi (makhluk jadi-jadian). Aku bertanya kepada mereka, kenapa mereka tidak masuk sekolah, mereka menjawab bahwa mereka kena bayangan. Bayangan??? Ah seram juga ya. Terus aku Tanya lagi, “apakah bapak dan ibu guru juga kena bayangan”? mereka menjawab “ya, bapak dan ibu guru juga kena bayangan dan kita semua kena bayangan”!
Penasaran???????
*****
Bayangan merupakan suatu istilah bahwa kita telah menjadi incaran sosok ghaib yang bernama suanggi dan anehnya mitos ini cuma berlaku kepada suku asli Merauke yaitu suku Marind dan tidak akan berdampak apapun terhadap pendatang. Begitu sudah, lega aku mendengar penjelasan dari warga setempat. Namun, masalahnya kini banyak siswa yang tidak masuk sekolah, akhirnya kami pihak sekolah mencari solusinya dengan duduk bersama kepala kampung, tokoh adat, dan perwakilan dari orang tua wali siswa. Mengingat jam belajar efektif siswa di semester dua ini tinggal dua bulan menuju ujian kenaikan kelas. Akhirnya seminggu setelah diadakan pertemuan siswa kembali ke sekolah.
Senang rasanya melihat sang saka Merah Putih tetap berkibar di ujung timur Indonesia dan syair Indonesia raya tetap di perdengarkan dengan indah. Serasa satu darah satu tujuan dari ujung barat hingga ujung timur itulah Indonesia.
Kalian semua telah membuat hidup saya penuh warna. Indah rasanya jika mengingat kalian. Hidup saya sudah seperti pelangi yang indah, itu semua karena saya berada di antara kalian. Walaupun saya sudah jauh, dan entah rantau mana yang akan saya tuju. Namun, saya percaya semua kebaikan dan hubungan harmonis kita itu semua karena kita merasa kita saudara. Satu tumpah darah, satu bahasa, satu tujuan dan tentu saja di bawah naungan dan rahmatdari Tuhan Yang Maha Esa.
Perpisahan ini bukan berarti menutup lembaran kisah kita bersama di tanah ini, tanah Merauke. Tempat matahari pertama kali terbit di Indonesia. Namun, perpisahan ini merupakan awal dari perjalanan kita untuk kembali bertemu dan reunian dengan kisah indah masing-masing. Semakin jauh jarak antara kita, maka semakin dalam kerinduan yang akan kita rasakan, itulah indahnya persaudaraan yang telah kita rangkai…………
“Tinggallah Sekolah, Tinggallah Tubang, Tinggallah Merauke, Tinggallah Sayang”
Satinggi-tinggi bangau tabang pulangnyo ka kubangan juo. Sajauah denai marantau akhirnyo ranah minang memanggil untuk pulang kembali.
1 Comments
Nice amazing rd sang DRB SUMBAR 2021
ReplyDelete