Pendidikan menjadi kebutuhan utama masyarakat Indonesia, khususnya warga Papua. Bagi mereka yang berada di tempat terpencil memang sangat susah mendapatkan pendidikan.Kenangan mengajar selama setahun sebagai Sarjana Mendidik di daerah Terluar, Tertinggal, dan Terdepan (SM-3T) tak akan pernah terlupakan. Berawal dari pengumuman hasil seleksi tes SM-3T oleh DIKTI, Agustus 2015. Saya dan 19 orang yang berasal dari LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Guru) UNP (Universitas Negeri Padang) di tempatkan di Kabupaten Merauke dengan persebaran merata disetiap kampung.

Entah kenapa kami yang ditempatkan di Papua selalu menjadi bahan ejekan, seperti menakuti kami kalau disana semua barang mahal, gaji bisa habis, orangnya primitive, dan lain sebagainya. Padahal kami yang ditempatkan di Papua membutuhkan support atau dukungan dari lingkungan keluarga dan teman-teman. Tak hanya teman-teman saja, tetapi banyak godaan sebelum berangkat ke Papua seperti  saat dirumahpun ada keluarga yang mengingatkan kalau tidak usah dilanjutkan dan di suruh untuk cari kerja yang lain saja, tapi saya yakin dan mantap, bahwa saya bisa untuk berjuang mencerdaskan anak didik di Papua dan bisa bertahan di bumi Papua dengan segala resiko yang ada. Terlebih saya yakin bahwa ini lah petualangan baru di hidup saya untuk mengabdikan diri di ujung Indonesia di tanah mutiara hitam.

Perjalanan dari padang menuju Jakarta, dilanjutkan Jakarta-Sentani yang membutuhkan waktu jarak tempuh + 6 jam. Setibanya di sentani saya terkejut bahwa keadaan bandara yang terbilang kecil untuk setingkat Provinsi dan minim fasilitas serta melihat kebiasaan orang-orang asli Papua yang mengunyah pinang membuat saya geli dan risi. Setelah transit di Sentani, Jayapura perjalanan dilanjutkan ke Kabupaten Merauke. Dua minggu kami menunggu di asrama untuk pendistribusian menuju tempat pengabdian yang tersebar di 20 Distrik (kecamatan) berbeda.

Dua minggu berlalu akhirnya saya dan satu orang teman di tempatkan d Distrik Tubang. Saya mengajar di SMP N persiapan Tubang dan teman saya d SD YPPK Yowied. Kami menerima apa yang telah digariskan oleh Tuhan kepada kami. Meskipun terpisah-pisah selama satu tahun, namun kami yakin dengan niat yang mulia kami akan bisa menaklukkan segala tantangan.

Merauke menuju Tubang. Jarak yang di tempuh guru sampai ke sekolah rata – rata 200 Km, kurang lebih hampir satu hari perjalanan dengan modal transportasi motor melewati jalanan setapak. Biaya untuk pulang pergi dari sekolah kekota bisa menghabiskan uang 3 juta, sehingga banyak sebagian guru yang berpikir ulang untuk datang menuju tempat pengabdian. Jadi dengan alasan itulah kondisi pendidikan di dsitrik Tubang secara umum masih jauh dari harapan.

Dengan motivasi yang tinggi bahwa kedatangan saya sangat dinantikan di sekolah tempat pengabdian. Meskipun tidak sedikit rintangan yang saya hadapi untuk mencapai daerah pengabdian. Berbekal sepeda motor tua, saya memulai perjalanan menuju daerah pengabdian melewati jalanan setapak, panjang berdebu, dikelilingi hutan belantara. Setelah itu disambut jalan lintas pantai yang harus menunggu surutnya air laut (istilah merauke air “meti”). Jika air laut sedang pasang, saya dan rekan-rekan akan menunggu beberapa jam untuk melanjutkan perjalanan, bahkan ketika matahari sudah tenggelam kami masih berada di bibir pantai belum bisa melanjutkan perjalanan. Setelah air laut benar-benar meti kami pun melewatinya dalam gelap. Setelah sampai di muara kami harus menunggu perahu datang menjemput untuk menyebrang. Saat menunggu sungguh saat yang tidak menguntungkan bagi kami, namun sangat menguntungkan bagi ribuan nyamuk yang siap menyerang tanpa ampun menghinggapi seluruh bagian tubuh kami. Kami tiba dikampung Yowied tengah malam dan kami dsambut oleh kegelapan malam yang mencekam, tidak ada cahaya sedikitpun. Inilah Desa tempat sekolah ku berada yaitu SMP N Persiapan Negeri Tubang.

Sekolahku yang terletak di tepi pantai, merupakan sebuah lahan amal bagi saya. SMP Persiapan Negeri Tubang, begitulah tulisan yang tertera pada papan nama sekolah yang sudah mulai lapuk di makan usia. Sekolah tempat saya pengabdian ini terletak di pusat Distrik. Tentunya pusat  Distrik yang benar-benar terisolir dan tidak mengindikasi adanya denyut-denyut kemajuan. Hal ini dibuktikan dengan tidak ada penerangan dan signal di Distrik Tubang, Kabupaten Merauke. 1 x 6 bulan saya baru bisa menjalin komunikasi dengan sanak saudara. Hanya waktu libur semester lah yang ditunggu-tunggu. Karena sulitnya medan dan tingginya biaya trasnportasi menuju kota, maka saya lebih memilih bertahan di kampung tempat pengabdian mengerjakan hal-hal yang bermanfaat daripada setiap bulan ke kota.

Sebagian besar siswa SMP N Persiapan Negeri Tubang kurang disiplin dalam hal berpakaian dan terlambat datang ke sekolah. Banyak siswa yang tidak memiliki pakaian seragam lengkap, seperti sepatu, ikat pinggang, dan atribut yang lain. Siswa tidak terbiasa mandi saat berangkat sekolah karena daerah yang sulit air. Prestasi belajar siswa juga masih tergolong rendah, wawasan siswa sangat sempit, mereka cenderung cepat lupa, mudah bosan dan mudah capek. Daya tangkap siswa akan pelajaran tergolong kurang karena siswa hanya belajar di sekolah saja, sepulang sekolah siswa membantu orang tua bekerja di kebun, dan pada malam harinya mereka tidak bisa belajar karena sudah capek dan juga tidak ada listrik.

Selain kegiatan di sekolah tentunya kita dituntut untuk mampu berinteraksi sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Hal ini terbukti dengan mudahnya rezki yang kita dapat dari masyarakat yang sering megantarkan ikan, daging, ataupun sayuran kepada guru. Kegiatan yang kami lakukan ketika akhir pekan adalah melakukan kegiatan pertanian. Hasil pertanian kami bagikan kepada masyarakat kampung dan para siswa.

Disetiap sore kami melaksanakan pelatihan membaca, menulis, dan berhitung bagi anak-anak yang belum lancar CALISTUNG. Kegiatan kemasyarakatan seperti peresmian gereja, pembuatan jembatan, semua kegiatan yang berkaitan dengan masyarakat menuntut peran serta kita. Sebagai seorang guru di daerah 3T, kita merasa sensasi menjadi guru yang luar biasa yang tidak pernah kita jumpai ketika mengajar di daerah perkotaan. Sebagai seorang guru, kita sangat dihargai dan disegani.

Salah satu upaya saya sebagai guru di pedalaman papua adalah harus beradaptasi dengan bahasa mereka, dengan mindset mereka yang cenderung keras kepala. Bagi mereka, apa yang sudah mereka ketahui, sudah benar. Bagaimana saya mengubahnya sangat sulit, misalnya dalam pola hidup sehat. Disisi lain rasa nasionalisme yang kurang sehingga saya katakan, bahwa kita Satu Negara, Satu Bangsa Satu Bahasa, yaitu Indonesia. Pelan tapi pasti, akhirnya mereka memahaminya. Di SM3T ini memang kita diajarkan untuk dapat memanfaatkan situasi dan kondisi alam untuk bertahan hidup.

Untuk bertahan hidup kita harus mampu untuk mengganti makanan pokok kita dengan sagu. Saya yang terbiasa makan nasi, ketika berada di pedalaman harus terbiasa memakan makanan yang berbahan dasar sagu. Awalnya memang sulit, namun akhirnya terbiasa dan mulai menyukai makanan yang berbahan dasar sagu, seperti papeda (sagu yang disiram air panas, di aduk lalu di makan denga ikan kuah kuning). Makanan favorit saya selama berada di daerah penempatan.

Satu tahun pengabdian tidak terasa, telah menorehkan aneka warna pelangi dikehidupan ini. Kepergian saya sebagai seorang guru di daerah pedalaman menuju kampung halaman di ranah minang diiringi oleh air mata kesedihan para siswa yang tidak ingin berpisah dan masih ingin terus merajut asa untuk mencapai cita bersama. Namun, apa daya kontrak SM-3T telah berkhir dan saya harus kembali ke ranah minang untuk melanjutkan kuliah PPG (Pendidikan Profesi Guru) untuk menjadi seorang guru yang profesional dan ahli dibidangnya.

Saya hanya berharap bahwa suatu saat perjuangan saya dan teman-teman sekarang membawa manfaat bagi kemajuan dalam bidang pendidikan di tanah Papua khususnya di daerah penempatan saya. Itulah goresan tinta pengalaman yang dapat saya bagikan, semoga bermanfaat, Amiin.

Punya semangat mendidik dan berpetualang ke daerah baru? Ayoo gabung. Program Sarjana Mendidik di daerah Terluar, Terdepan dan Tertinggal (SM3T) adalah program pengiriman guru ke berbagai pelosok negeri. Program ini yang mendorong saya, seorang guru asal Sumatera Barat bersama puluhan ribu guru yang bertugas se Indonesia tidak hanya mengajar dan mendidik, tetapi juga mendorong kemajuan sekolah di tempat pengabdian kami.